Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2016

Kisah Ratu Laut Selatan di Pelabuhan Ratu Sukabumi


Tak menutupi kemungkinan jika Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak tempat yang dianggap mengandung hal-hal yang mistis dan tentu saja ada 1001 alasan mengapa tempat-tempat tersebut masuk ke dalam kategori tempat yang angker. Tempat-tempat yang paling angker di Indonesia bukan hanya populer di Indonesia namun juga banyak dikenal di mancanegara. Bagi masyarakat Indonesia, terkadang sesuatu yang mengerikan malah menjadi daya tarik tersendiri untuk di eksplorasi. 

Seperti halnya tempat angker paling seram yang ada di di Kamar 308 Hotel Inna Samudera Pelabuhan Ratu. Pasalnya sosok penguasa Pantai Selatan Nyi Roro Kidul, bagi yang percaya, konon masih hidup. Perempuan misteri ini diyakini menetap di kamar Nomor 308 Hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Jadi, tak heran bila hampir setiap hari kamar itu selalu dikunjungi orang. Kebanyakan dari mereka datang untuk mendapatkan ilham. Tak tanggung-tanggung bahkan, ada di antara mereka yang khusus datang untuk meminta sesuatu, mulai dari ilmu kekebalan hingga yang dapat menyembuhkan orang lain.

Namun, ada pula yang datang hanya sekadar untuk menghilangkan rasa penasaran. Sebagaimana yang diyakini banyak orang bahwa Ratu Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul adalah tokoh legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat penghuni Pulau Jawa dan Bali. Kepercayaan akan adanya penguasa lautan di selatan Jawa (Samudera Hindia) dikenal terutama oleh suku Sunda dan suku Jawa. Orang Bali juga meyakini adanya kekuatan yang menguasai pantai selatan ini.                                          

Image result for legenda nyai roro kidul

Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan legenda ini dikenal. Namun demikian, legenda mengenai penguasa mistik pantai selatan mencapai tingkat tertinggi pada keyakinan yang dikenal di kalangan penguasa kraton dinasti Mataram Islam (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) bahwa penguasa pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul, merupakan "istri spiritual" bagi raja-raja di kedua kraton tersebut. Pada saat tertentu, kraton memberikan persembahan di Pantai Parangkusuma, Bantul, dan di Pantai Paranggupita, Wonogiri, kepada sang Ratu. Panggung Sanggabuwana di komplek kraton Surakarta dipercaya sebagai tempat bercengkerama sang Sunan dengan Kanjeng Ratu. Konon, Sang Ratu tampil sebagai perempuan muda dan cantik pada saat bulan muda hingga purnama, namun berangsur-angsur menua dan buruk pada saat bulan menuju bulan mati.

Dalam keyakinan orang Jawa, Kanjeng Ratu Kidul memiliki pembantu setia bernama Nyai atau Nyi Rara Kidul (kadang-kadang ada yang menyebut Nyi Lara Kidul). Nyi Rara Kidul menyukai warna hijau dan dipercaya suka mengambil orang-orang yang mengenakan pakaian hijau yang berada di pantai wilayahnya untuk dijadikan pelayan atau pasukannya. Karena itu pengunjung pantai wisata di selatan Pulau Jawa, baik di Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Cilacap, pantai-pantai di selatan Yogyakarta, hingga Semenanjung Purwa di ujung timur, selalu diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau.

Di kalangan masyarakat Sunda berkembang anggapan bahwa Ratu Kidul merupakan titisan Sehingga akhirnya puteri yang malang itu pun pergi berkelana sendirian, tanpa tahu kemana harus dituju. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dewi Kadita yang berhati yang mulia, tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, justru ia selalu meminta agar Sang Hyang Kersa mendampinginya dalam menanggung penderitaan.

Dari seorang putri Pajajaran yang bunuh diri di laut selatan karena diusir oleh keluarganya karena ia menderita penyakit yang membuat anggota keluarga lainnya malu. Dalam kepercayaan Jawa tokoh ini dianggap bukanlah Ratu Laut Selatan yang sesungguhnya, melainkan diidentikkan dengan Nyi Rara Kidul, pembantu setia Kanjeng Ratu Kidul. Hal ini berdasarkan kepercayaan bahwa Ratu Kidul berusia jauh lebih tua dan menguasai Laut Selatan jauh lebih lama sebelum sejarah Kerajaan Pajajaran.

Image result for legenda nyai roro kidul

Telah sejak lama masyarakat Sunda mengenal legenda mengenai penguasa spiritual kawasan Laut Selatan Jawa Barat yang berwujud perempuan cantik. Tokoh ini disebut Nyi Rara Kidul. Pada perkembangannya masyarakat cenderung menyamakan Nyi Rara Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul, meskipun dalam kepercayaan Jawa, Nyi Rara Kidul adalah bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul. Berikut adalah kisahnya.

Di masa lalu, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Dewi Kadita adalah anak dari Raja Munding Wangi, Raja Kerajaan Pajajaran. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkawinan tersebut. Maka, bahagialah sang Raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja tanpa ada penantang atas takhtanya, dan ia pun berusaha untuk menyingkirkan Dewi Kadita. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap Raja, dan meminta agar sang Raja menyuruh putrinya pergi dari istana.

Sudah tentu Raja menolak. Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putrinya. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara hanya tersenyum dan berkata manis sampai Raja tidak marah lagi kepadanya. Tetapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Kemudian pada keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun tukang tenung. Dia ingin sang dukun meneluh atau mengutuk Kadita, anak tirinya. Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Sumber: wikipedia.org - https://goo.gl/UgPexR
| 12 November | ,

Asal Mula Palabuhanratu

Image result for Pelabuhan ratu

Kabar Sukabumi.News - Sisa terakhir pasukan banten telah dihalau. Jaya Antea sang pemimpin telah berkalang air - tubuhnya dilempar ke laut. Tetapi kisah belum selesai. Babak baru sesungguhnya baru saja dimulai. Pada saat pelarian itu, Nyi Purnamasari sedang hamil 5 bulan. Ki Kalang Sunda mencari tempat yang aman untuk junjungannya agar selamat selama persalinan. Ditemukanlah tempat yang bernama Babakan Cidadap, di sebuah mata air yang bernaung dibawah pohon dadap tak jauh dari sungai Cimandiri.

Sebenarnya di daerah ini telah ada penduduk asli setempat yang dipimpin seorang atau beberapa orang Puun (sebutan untuk kepala kampung). Saat itu Puun yang memimpin adalah Ki Saragosa, Ki Gandana, dan Ki Sanaya. Sehingga pada saat Nyi Purnamasari melahirkan, mereka dengan dibantu masyarakat setempatlah yang bergotong royong membantu persalinan. Bayi lahir sehat dan berjenis kelamin perempuan. Kemudian diberi nama Nyi Mayang Sagara.

Image result for nyai purnama sari

Kedatangan Nyi Purnamasari membawa berkah tersendiri bagi Cidadap. Cidadap tumbuh menjadi pelabuhan ramai, dan penduduknya kian berkembang. Para Puun kemudian sepakat mengangkat Nyi Purnama Sari menjadi Puun Nyi Ratu Purnamasari. Itulah kali pertama kata Ratu dipergunakan. Namun ekonomi yang meningkat juga memancing kedatangan bajak laut (bajo) yang terkenal ganas yang kala itu datang dari Nusa Barung, Jawa Timur. Dua kali mereka datang, dua kali para bajo ditaklukkan. Kepemimpinan Nyi Ratu terbukti berhasil mengamankan dan memakmurkan wilayah ini. Sehingga nama Cidadap makin berkibar saja.

Sebagaimana tradisi karuhun, pada masa keemasan Cidadap, Nyi Ratu mengambil keputusan untuk melakukan tapa. Lokasi yang dipilih adalah desa Cicareuh Kecamatan Warungkiara sekarang. Sedangkan kekuasaan sementara dipegang oleh ketiga Puun semula. Sedikit terjadi kemunduran pada saat Cidadap ditinggalkan Nyi Ratu. Untuk menggairahkan kembali perdagangan di Cidadap, maka lokasi pelabuhan di pindahkan ke seberang sungai Cimandiri, dimana sekarang berdiri tempat pelelangan ikan.

Sejalan dengan beranjak dewasanya Nyi Mayang Sagara, maka ketiga Puun sepakat menyerahkan kembali tampuk pimpinan kepada beliau yang kemudian bergelar Nyi Ratu Kidul. Kemudian nama pelabuhan (dalam bahasa Sunda: Palabuan)  pun diganti menjadi Palabuan Nyi Ratu. Lidah urang Sunda menyingkatnya menjadi Palabuan Ratu. Tata bahasa sekarang menjadikannya Palabuhanratu.

Image result for Pelabuhan ratu

Nyi Ratu Kidul kemudian menikah dengan RAHYANG BAGUS SANGGA LARAPAN, turunan bangsawan Pakuan Gunung Tambaga. Pada masa ini Palabuhanratu mencapai masa keemasannya. Wilayahnya terbentang dari lebak sampai Gebang Kuning Garut.Setelah itu sejarah tak mencatat apapun mengenai Palabuhanratu. Hanya kenangan bahwa wilayah ini pernah diperintah dua ratu, sehingga nama Lara Kidul (dua Ratu Kidul) kemungkinan berasal dari masa ini. 

Hari ini, nama Nyi Roro Kidul boleh jadi lebih populer. Walaupun Tokoh terakhir lebih dikaitkan dengan mitos penguasa laut selatan yang berkaitan kesultanan Yogyakarta. Kenapa hari ini memori penduduk Palabuhanratu seolah begitu gelap terhadap asal usulnya? Kemungkinan ada semacam mata rantai yang terputus karena terjadinya bencana alam yang dahsyat menimpa Palabuhan ratu.

Back to Top